- Mitos-1: Memasang iklan di Google (PPC Adwords) akan mempengaruhi peringkat website Anda di hasil pencarian (SERP). Faktanya adalah peringkat website Anda tidak dipengaruhi oleh apakah Anda beriklan di Google atau tidak.
- Mitos-2: Program pertukaran link atau program “FFA” (free for all) akan meningkatkan ranking website Anda. Faktanya adalah bahwa seringkali program pertukaran link lebih banyak ruginya daripada manfaatnya. Di samping manfaatnya yang kecil, penyedia layanan program pertukaran link seringkali memanfaatkan email address Anda tanpa permisi yang meningkatkan email masuk yang tidak Anda inginkan ke mailbox Anda.
- Mitos-3: Penggunaan program pengecek ranking otomatis akan menghemat waktu para webmaster untuk menilai eksistensi website mereka. Faktanya adalah bahwa penggunaan program otomatis seperti itu akan memboroskan sumber daya yang seharusnya bisa dipakai untuk melayani keperluan yang lebih bermanfaat. Pemakaian program otomatis tersebut menyalahi TOS dan Google meminta para webmaster tidak menggunakannya.
- Mitos-4: Pesaing Anda bisa mengacaukan ranking website Anda dan bahkan membuat website Anda tidak terindeks oleh Google. Faktanya adalah hampir tidak ada peluang bagi pesaing Anda untuk merusak peringkat atau menghilangkan website Anda dari index Google. Peringkat dan kehadiran website Anda di index Google sepenuhnya berada dalam kontrol Anda sebagai webmaster, termasuk dalam hal konten dan desain website.
- Mitos-5: Website Anda akan dihapus dari index Google bila Anda terlalu sering melakukan submit URL. Faktanya adalah: Google tidak menganjurkan Anda submit URL dan tidak juga melarangnya. Anda bebas mendaftarkan website Anda sesering yang Anda mau, tapi proses pendaftaran URL mengikuti jadwal yang ditentukan oleh Google, jadi lebih baik waktu dan tenaga Anda digunakan untuk meningkatkan kualitas konten dan tautan website Anda.
- Mitos-6: Website Anda tidak akan diindeks oleh Google bila menggunakan format ASP (atau format non-html lainnya). Faktanya adalah: Google mampu mengindeks hampir semua jenis file, termasuk di antaranya file-file berformat pdf, asp, jsp, html, shtml, xml, doc, xls, ppt, rtf, wks, lwp, wri, swf, cfm, dan php.
- Mitos-7: Hosting website di server tertentu seperti Apache dan IIX akan memberi keuntungan bagi ranking website Anda. Faktanya adalah: Google tidak membedakan jenis server yang Anda pakai dalam menilai peringkat website, gunakan jenis server apa pun yang paling cocok dengan Anda.
- Mitos-8: Bila akses website Anda lambat, hal itu akan mempengaruhi peringkat website Anda. Faktanya adalah: kecepatan loading website tidak mempengaruhi peringkat website Anda, tetapi bila server Anda mati atau koneksi terputus yang mengakibatkan website Anda tidak bisa diakses maka halaman website Anda tidak diindeks oleh Google.
Rabu, 05 November 2008
Fakta Google
Indonesia Mempunyai 8 Presiden?
Selama ini kita mengenal bahwa Indonesia memiliki 6 Presiden, yaitu Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, dan sekarang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun, menurut sejarah, sebenarnya Indonesia memiliki lebih dari 6 Presiden, tepatnya 8 Presiden. Tidak percaya? Coba perhatikan fakta-fakta berikut ini:
Pemerintahan Darurat RI
Pada 19 Desember 1948, saat Belanda melakukan agresi militer II dengan menyerang dan menguasai ibu kota RI saat itu di Yogyakarta, mereka berhasil menangkap dan menahan Presiden Soekarno, Moh. Hatta, serta para pemimpin Indonesia lainnya untuk kemudian diasingkan ke Pulau Bangka.
Kabar penangkapan terhadap Soekarno dan para pemimpin Indonesia itu terdengar oleh Sjafrudin Prawiranegara yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran dan sedang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat. Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, Sjafrudin mengusulkan agar dibentuk pemerintahan darurat untuk meneruskan pemerintah RI, atau lebih dikenal dengan PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia).
Padahal, saat itu Soekarno - Hatta telah mengirimkan telegram yang berbunyi, "Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu Kota Jogjakarta. Djika dalam keadaan pemerintah tidak dapat mendjalankan kewajibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra".
Sayang, telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi. Meski demikian, ternyata pada saat bersamaan Sjafruddin Prawiranegara telah mengambil inisiatif yang senada. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government). Gubernur Sumatera Mr. T.M. Hasan menyetujui usul itu "demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala pemerintahan, yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara".
Pada 22 Desember 1948, di Halaban, sekitar 15 km dari Payakumbuh, PDRI "diproklamasikan" . Sjafruddin duduk sebagai ketua/presiden merangkap Menteri Pertahanan, Penerangan, dan Luar Negeri, ad. interim. Kabinatenya dibantu Mr. T.M. Hasan, Mr. S.M. Rasjid, Mr. Lukman Hakim, Ir. Mananti Sitompul, Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto. Adapun Jenderal Sudirman tetap sebagai Panglima Besar Angkatan Perang. Sjafruddin menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhirlah riwayat PDRI yang selama kurang lebih delapan bulan melanjutkan eksistensi Republik Indonesia.
Republik Indonesia Serikat
Dalam perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditandatangani di Belanda, 27 Desember 1949 diputuskan bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS terdiri dari 16 negara bagian, salah satunya adalah Republik Indonesia. Negara bagian lainnya seperti Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, dan lain-lain. Karena Soekarno dan Moh. Hatta telah ditetapkan menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS, maka berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik Indonesia.
Assaat adalah Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI. Peran Assaat sangat penting. Kalau tidak ada RI saat itu, berarti ada kekosongan dalam sejarah Indonesia bahwa RI pernah menghilang dan kemudian muncul lagi. Namun, dengan mengakui keberadaan RI dalam RIS yang hanya beberapa bulan, tampak bahwa sejarah Republik Indonesia sejak tahun 1945 tidak pernah terputus sampai kini. Kita ketahui bahwa kemudian RIS melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 15 Agustus 1950. Itu berarti, Assaat pernah memangku jabatan Presiden RI sekitar sembilan bulan! Jadi, dari fakta tersebut bisa disimpulkan bahwa Indonesia memiliki 8 Presiden, bukannya 6 seperti yang kita sangka selama ini.
Apakah Yeti Ada?
Sebuah keributan sempat meletup di Nepal setelah seorang ahli bahasa-bahasa Himalaya berkebangsaan Jepang menegaskan bahwa makhluk misterius yang disebut yeti sebenarnya tidak lebih dari kekeliruan identitas karena kemiripan bahasa.
Dr Matako Nabuka, dalam suatu konferensi pers di Tokyo, mengatakan yeti bukanlah kera misterius atau makhluk berbulu lebat dan berjalan tegak yang hidup di ketinggian Himalaya. "Yang dimaksudkan dengan yeti sesungguhnya adalah beruang cokelat Himalaya, yang dalam dialek lokal Tibet disebut meti," ujar Nabuka. "Namun orang kemudian keliru memahami sebutan itu dan menganggapnya sebagai makhluk misterius lain. Parahnya, cerita tersebut meluas dan dipercaya banyak orang."
Dr Nabuka sendiri adalah seorang peneliti dan pendaki gunung yang sudah menghabiskan waktu sekitar 12 tahun di Nepal, Tibet dan Bhutan. Ia mengaku pernah memimpin berbagai riset untuk mencari yeti, kera besar yang hidup di gua-gua salju Pegunungan Himalaya, namun hasilnya nol besar. "Orang-orang yang mengaku pernah melihatnya pun tidak pernah datang dengan membawa bukti. Tidak seorangpun berhasil membuktikan keberadaannya," ujar Nabuka.
Tentu saja pernyataan Dr Nabuka itu mendapat bantahan, terutama di kalangan penduduk lokal di sekitar Kathmandu yang mempercayai adanya yeti. Namun Dr Nabuka tetap pada keyakinannya bahwa apa yang disebut yeti adalah beruang cokelat. Lebih-lebih lagi, suku-suku di Himalaya menyembah beruang cokelat sebagai jelmaan dewa, dan menghubungkannya dengan kekuatan supernatural sehingga cerita mengenai hewan itu banyak dilebih-lebihkan.
Peneliti itu juga mengaku memiliki foto-foto yang menunjukkan bekas-bekas cakaran dan jejak beruang serta bagian tubuh binatang tersebut yang disembah-sembah oleh orang-orang dari suku pegunungan Himalaya.
Perdebatan bahasa
Namun ketika apa yang disampaikan Nabuka itu sampai ke Nepal, baik pers maupun penduduk lokal menentangnya. Mereka menganggap keterangan Dr Nabuka sebagai sesuatu yang sembrono. Sebuah surat di Kathmandu Post yang ditandatangani Bha Dawa, bahkan menyebutkan peneliti Jepang itu mungkin terlalu lama berada di gunung yang salah, dan mereka-reka sendiri pengertian tentang yeti. Baik yeti maupun meti, menurut Dawa, memiliki arti sebagai binatang yang setengah mistis.
Sementara itu, Dr Raj Kumar Pandey, yang juga meneliti keberadaan yeti serta mempelajari bahasa-bahasa pegunungan Himalaya seperti Dr Nabuka, mengatakan masalah kedekatan bunyi bahasa tidak cukup untuk mengatakan bahwa yeti hanyalah isapan jempol.
"Kita juga harus melihat banyaknya ekspedisi asing yang mengaku melihat yeti. Mereka pasti tidak tahu menahu tentang bahasa suku pegunungan," kata Dr Pandey seraya menyebut nama-nama saksi mata seperti pendaki gunung Inggris Eric Shipton, pendaki Italia Reinhold Messner, dan pemimpin ekspedisi Everest berkebangsaan Inggris, John Hunt.
"Kita harus melakukan lebih banyak penelitian mengenai bahasa dan melakukan lebih banyak pencarian sebelum kita mempercayai pernyataan seperti yang dikeluarkan Dr Nabuka," tandas Pandey.
Saksi mata
Suatu jajak pendapat tidak resmi terhadap para pendaki gunung di Kathmandu yang dilakukan BBC News Online di sebuah tempat minum favorit para pendaki, Rum Doodle Bar, menemukan setidaknya tiga orang pendaki yang mengaku pernah bertemu yeti.
Tidak seorangpun dari ketiganya bersedia menyebutkan nama, namun semua yakin apa yang mereka lihat itu benar-benar yeti, dan tidak ada hubungannya dengan banyaknya minuman keras buatan setempat yang mereka tenggak.
Lebih jauh, pernyataan Dr Nabuka ini barangkali juga akan mendapat tentangan keras dari sesama orang Jepang yang saat ini sedang melakukan ekspedisi pencarian yeti di Himalaya. Seperti diberitakan sebelumnya, seorang pendaki Jepang, Yoshiteru Takahashi, beberapa minggu lalu pergi ke Himalaya untuk mengambil gambar kera salju berbulu tebal itu.
Takahashi sebelumnya mengklaim telah menemukan gua tempat tinggal yeti di lereng Dhaulagiri, gunung kelima tertinggi di dunia yang terletak di barat Nepal. Namun saat ia berada di sana pada tahun 1994, kameranya membeku sehingga tidak satu fotopun bisa dibuatnya.
Tahun ini, Takahashi kembali ke sana dengan membawa sembilan kamera infra merah yang dilengkapi piranti yang sensitif terhadap gerakan. "Kami akan mendapatkan gambar makhluk itu kali ini," ujarnya sebelum berangkat. "Dan dengan foto itu mereka yang tidak percaya akan belajar."
Jejak Kaki Yeti
Sejumlah jejak kaki dari mahluk legendaris Yeti baru-baru ini ditemukan di lereng-lereng pegunungan Himalaya yang diselimuti salju, demikian yang dilaporkan tim penjelajah Jepang.
Para petualang ini hampir tidak bisa menyembunyikan kegembiraan mereka saat menemukan jejak-jejak kaki sepanjang 8 inchi yang berbentuk mirip kaki manusia. Namun, pemimpin tim ini Yoshiteru Takahashi mengatakan, makhluk pemilik jejak kaki itu bukanlah manusia dan juga bukan serigala, rusa atau macan tutul salju.
"Kami meyakini jejak-jejak kaki itu milik Yeti," ujar Takahashi yang memimpin Proyek Yeti Jepang sekembalinya mereka dari kawasan pegunungan itu menuju ibukota Nepal, Kathmandu.
Serangkaian cerita seputar mahluk Yeti yang juga dikenal sebagai Manusia Salju ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Nepal dari generasi ke generasi yang nenek moyangnya mengisahkan wujud mahluk itu berbentuk setengah manusua, setengah kera yang tinggal di pegunungan Himalaya di mana gunung tertinggi di dunia, Everest, berada. Yeti bisa disamakan dengan mahluk Bigfoot yang melegenda di Amerika Utara.
Masyarakat sains menepis keberadaan mahluk yeti ini dengan mengatakan itu lebih cenderung dari mitos ketimbang fakta, namun Takahashi yakin mahluk itu benar-benar ada.
Jika benar, pastilah usia mahluk itu sudah sangat tua, sebab penampakannya pertama kali dilaporkan pada tahun 1832 oleh orang Inggris James Prinsep yang diberitahukan dari masyarakat lokal adanya mahluk berbulu lebat tinggi.
Takashi yakin jejak kaki berukuran 8 inchi itu adalah milik yeti dan bukan mahluk lain. Dia juga mengklaim pernah melihat Yeti ketika dia pergi menuju pegunungan Himalaya di tahun 2003. Pada ekspedisi itu, dia dan Yeti hanya berjarak 200 yard namun dia yakin dirinya tidak salah melihat.
"Itu bukan siluet. Makhluk itu berjalan dengan dua kaki layaknya manusia dan tingginya sekitar 5 kaki." Kenang Takashi. Kini penemuan jejak kaki aneh di salju ini merupakan yang terkini dari sekian ekspedisinya dan membuat Takahashi yakin bahwa Yeti masih hidup dan berkeliaran di puncak-puncak Himalaya.
Meksi sudah menghabiskan 42 hari di Dhaulagiri IV pada ketinggian 25.135 kaki, tim ekspedisi ini gagal mendapatkan benda-benda atau rekaman terkait keberadaan Yeti tersebut.
"Tapi kami akan kembali sesegera mungkin dan mudah-mudahan kami bisa mengambil rekaman Yeti. Jika itu berhasil, maka keragu-raguan kita akan sirna," tegas Takashi.
Selasa, 04 November 2008
Beberapa Fakta Menarik
Edgar D. Mitchell, anggota kru Apollo ke-14 AS, yang juga merupakan astronaut ke-6 mendarat di bulan, pada 22 Juli 1971, sewaktu menerima wawancara radio menyatakan secara terbuka, bahwa Alien sudah pernah berkali-kali kontak dengan umat manusia, tetapi pemerintah AS menyembunyikan realita ini selama 60 tahun.
Dr. Mitchell anggota Apollo 14
Mitchell yang tahun ini berusia 77 tahun mengatakan, di dalam pengalaman hidupnya sebagai astronaut, ia mengetahui catatan bahwa UFO pernah berulang kali mengunjungi bumi, namun setiap kali selalu saja ditutup-tutupi oleh NASA.
Mitchell berkata, sumber informasi NASA yang pernah kontak dengan Alien mengatakan kepadanya, Alien adalah “Orang kecil yang menurut kita berbentuk aneh.”
Ia mengatakan, bentuk Alien menyerupai imajinasi kita tempo dulu yakni, “Berbadan kecil dan berkepala besar serta bermata lebar.” Mengenai teknologi, orang bumi sama sekali bukan tandingan Alien, “Jika saja mereka berniat memusuhi kita, tentu sekarang ini kita sudah tamat.”
Selama bertugas Apollo 14 pada 1971, Michel dan Shepard rekan instruktornya, memecahkan rekor umat manusia berjalan di atas permukaan bulan terlama, total 9 jam 17 menit.
Mitchell mengatakan kepada pemimpin acara siaran yang terkejut, ia senantiasa berada di lingkup informasi kemiliteran, mengetahui informasi bahwa 60 tahun terakhir ini Alien pernah berulangkali berkunjung. Sedangkan peristiwa rontoknya pesawat UFO di kota Rosewell, negara bagian New Mexico pada tahun 1947 juga adalah benar.
Pemerintah AS menutupi realita selama 60 tahun
Bocoran yang diungkapkan oleh Mitchell, segera saja diklarifikasi oleh pihak NASA, dikatakan bahwa institusi mereka tidak mengejar UFO, juga tidak terlibat dalam segala kegiatan yang menutup-nutupi ada tidaknya makhluk luar angkasa diatas bumi ini ataupun tempat lain di alam semesta.
Di dalam pernyataan itu disebutkan, “Doktor Mitchell adalah warga Amerika yang hebat, tetapi dalam polemik ini kami memiliki pandangan berbeda dengannya.”
2. Atlantis di Indonesia?
MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?
Plato (427 - 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh. Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.
Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil it berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.
Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaula internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya.